Jumat, 20 Januari 2017

CANINE PARVO VIRUS

Oleh Nindya Kusuma, DRH

 Beberapa waktu lalu di Tabby Pet Care menerima pasien anjing betina bernama Pika, berumur 2 bulan dengan keluhan tidak mau makan, muntah, dan diare serta status vaksin belum pernah. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik kondisi anjing mengalami dehidrasi, vomit profus, hipersalivasi, diare dan kondisi lemas. Karena gejalanya mirip dengan penyakit lainnya maka dibutuhkan penegakan diagnosa dengan menggunakan rapid tes kit CPV (Canine Parvo Virus).
Canine Parvo Virus  atau dikenal juga sebagai penyakit Parvo adalah salah satu penyakit akut yang berbahaya karena memiliki mortalitas (tingkat kematian) yang tinggi. Dengan kata lain, anjing yang terkena penyakit Parvo memiliki tingkat hidup kecil. Penyakit ini tersebar diseluruh dunia termasuk juga di Indonesia dan menyerang puppies (anak anjing). Penyakit ini disebabkan oleh golongan canine parvo virus, non enveloped single strand DNA virus, Canine Parvo Virus memiliki type 1 dan 2a,2b,2c.
Masa inkubasi penyakit parvo berlangsung selama 5-12 hari. Sistem tubuh yang terinfeksi adalah jaringan lymphoid dan gastrointestinal. Gejala klinis yang muncul adalah demam, anoreksia (tidak mau makan), vomit (muntah), hipersalivasi dan diare. Penularan virus parvo  secara oral dan melalui kontak fisik dengan tempat pakan-minum, kandang dan kotoran anjing yang terinfeksi virus parvo.
 Tes Kit CPV Positif 

            Penggunaan rapid tes kit CPV (Canine Parvo Virus) dengan mengambil sampel feses anjing yang diduga terkena CPV lalu dicampur ke dalam diluent kemudian diteteskan pada rapid test kit. Foto tes kit di atas tampak muncul dua garis pada kolom C dan kolom T, artinya menunjukkan hasil positif jika ke dua garis muncul.

Foto Anjing yang Terkena Parvo

Terapi untuk anjing yang terkena penyakit parvo adalah fluid therapy (cairan infus), pemberian antibiotik, immunostimulant, antiemetik (antimuntah), anti diare dan diet pakan untuk intestinal. Akibat muntah dan diare tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit sehingga dibutuhkan fluid therapy (cairan infus) agar tubuh tidak mengalami dehidrasi. Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi sekunder dari bakteri dan pemberian immunostimulant untuk menambah daya tahan tubuhnya. Terapi pakan khusus intestinal karena di dalam kandungan pakan tersebut mengandung protein yang stabil untuk usus.
Setelah dokter mendiagnosa anjing Anda terkena penyakit Parvo maka disarankan untuk sanitasi kandang dengan desinfektan dan pisahkan bila ada anjing lain di rumah. Begitu muncul gejala tidak mau makan, muntah dan diare maka segera bawa ke dokter hewan. Ayo cegah anjing kesayangan kita sebelum terinfeksi virus Parvo dengan memvaksinasikannya J

SUMBER :
Subronto. 2010.  Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Gadjah
Mada University Press : Yogyakarta.
Stephen C, Barr; Dwight Bowman. 2006. The 5-Minute Veterinary Consult Canine and

Feline. Blackwell Publishing.  

1 komentar: